Thursday, September 8, 2016

Ini Aku..



Manor, ini Aku..
Kau masih ingat Aku?
Bertahun entah berapa aku sudah tidak menyapamu.
Entah bagaimana kabarmu, aku tak mengerti.

Manor..
Panjang umurkah kau?

Sunday, October 26, 2014

Kenangan yang Membekas


Bukan sesuatu yang aneh jika suatu saat nanti aku menyapamu. Banyak pesan yang terlewatkan begitu saja di antara kita yang tidak punya banyak waktu untuk saling bercerita tentang masa sekarang yang masih mondar-mandir tak karuan. Tahukah kamu jika aku sering menghitung rintik hujan yang jatuh ke atas lantai hingga membentuk bercak bulatan yang hampir seimbang sekelilingnya sambil menunggu apakah kamu akan tetap menganggapku sebagai oase yang sebenarnya di tengah-tengah fatamorgana kehidupan atau tidak?
            Kita selalu bercerita. Itu sesuatu yang unik jika kamu bertanya apa rasanya kepadaku. Tidak ada yang tidak berarti dari pembicaraan kita. Membuang-buang waktu hanya untuk bercerita adalah tujuan utama kita. Ada ikatan yang tidak terlihat yang mengatakan kalau kita harus tetap terikat setidaknya untuk sementara waktu ini.
            Dunia ini sudah lama disakiti. Manusia mungkin lupa kalau dunia sering menangis diam-diam. Ketika amukan marahnya meledak merupakan hal yang wajar jika dia akhirnya membunuh kita tanpa permisi.
            Kamu. Sebagai teman yang selalu membuat aku tergelitik untuk membaca apa yang sedang kamu pikirkan dan rasakan, mempunyai bayangan tersendiri di antara bayanganku yang selalu berdiri membelakangi matahari. Bagaimana mungkin bisa aku berpikir seperti itu tanpa kamu. Banyak arti yang tidak bisa disusun dalam waktu singkat. Mungkin saja di hari tua nanti aku akan mengingat kembali bahwa kamu pernah mengisi album fotoku dengan cerita tentang dunia.
              Kata-kata kamu pedih, beberapa kali. Aku sempat marah karena tidak tahan untuk menangis. Lama-lama aku malu mengapa aku harus marah. Itu hanya kata-kata kamu yang cuma sekedar kata-kata, awalnya aku berpikir begitu. Tapi, selanjutnya bisa menjadi amunisiku suatu saat jika diperlukan. Aku tahu kamu sudah berani melontarkan fakta tentangku. Fakta bahwa aku adalah manusia tolol karena tidak mau menyadari kejeniusanku. Kamu orang yang berani mengatakan itu kepadaku. Satu malam aku marah karena sebutan itu. Besoknya aku tertawa karena aku terlambat menyadari bahwa kamu begitu perhatian kepada duniaku.
            Tidak ada yang salah dengan sebuah perhatian. Aku tahu posisi kita masing-masing. Membuat satu sama lain untuk menjadi lebih baik bukanlah hal yang salah. Sangat tidak salah.
            Ada waktu yang terhenti ketika mata kita bertemu. Di benakku, “Ketemu juga deh…” sebuah kesempatan untuk berbagi cerita. Seperti pertemuan dua orang manusia yang terpisah oleh bentangan benua dan luasnya samudera. Sebuah pertemuan adalah sebuah kebahagiaan. Aku selalu menantikan kejutan dalam pertemuan.
            Perjalanan memberi gambaran bahwa masih banyak yang harus kita lewati sampai hal-hal yang terkecil sekali pun. Kadang lurus, berbelok, menanjak, menurun, bahkan buntu. Haruskah berhenti? Tidak. Kamu hebat sebagai teman. Pengkritik yang baik bagiku. Menyuguhkan ide dalam pola-pola yang tidak aku mengerti sementara kamu mungkin bisa sabar dalam menghadapiku. Tidak mudah. Terima kasih.
            Sekali lagi aku katakan, bagaimana mungkin bisa aku berpikir seperti itu tanpa kamu. Kamu bukan sebuah ide. Kamu pemberi ide. Jika kamu ide, tidak akan nyata bagiku. Butuh orang lain untuk menjadikan kamu nyata di mataku.
            Aku hanya melihat kamu. Kadang dari dekat, kadang dari kejauhan. Sebentar…aku minta waktu….
            ……………………….
            Terima kasih atas waktu yang kamu berikan. Ada beberapa hal yang harus aku kerjakan tadi. Aku heran ntah mengapa aku bisa begitu saja meng-iya-kan permintaanmu untuk menulis cerita pendek dengan ketentuan yang berlaku menurutmu. Heran, heran, dan heran. Lima halaman, padahal aku memohon satu halaman saja. Kamu memang, ah, tidak tahu apa namanya!
            Sebentar…aku harus mencuci isi perut dulu. Sebentar…tunggu…tidak lama kok…
            ……………………..
            Sebentar kan?
            Sakit perutku, Teman. Tidak tahu mengapa.
            Pada saat kamu meminjamkan buku Peck ke saya, rasa malas itu dengan begitu cepat menjalari punggung saya. Saya berpikir, untuk apa saya membaca buku yang membosankan ini. Kamu meyakinkanku bahwa itu adalah buku yang cocok dengan kondisiku saat itu. Pertama-tama yang aku lihat dari buku itu adalah jenis kertasnya. Aku suka jenis kertas seperti itu. Gara-gara aku suka dengan kertasnya, aku pun menjadi tertarik untuk membacanya. Awal yang baik, bukan?
            “Hidup itu sulit.”
            Itu kalimat pertamanya. Menyebalkan bagiku. Belum apa-apa sudah disuguhkan kata “sulit” di awal. Tapi, satu kalimat pendek itu saja sudah membuatku berpikir jauh ntah kemana. Kemudian aku melanjutkan bacaannya sampai semampu yang bisa aku baca. Menarik.
            Lama-lama aku berpikir, kamu meminjamkan buku itu seakan-akan sedang membawaku kepada seorang psikiater yang sedang menungguku di balik mejanya dengan senyuman yang penuh misteri. Kamu menemaniku sambil terus mendengarkan cerita yang aku ceritakan kepada psikiater tersebut. Sebentar-sebentar aku merasa kaget dengan pertanyaan dan pernyataan dari psikiater itu, sementara kamu hanya tersenyum dengan sabar menunggu selesainya aku dengan terapiku.
            Tidak hanya sekali kamu menemaniku ke tempat psikiater itu, tapi berkali-kali sampai aku merasa aku hampir sembuh. Detik-detik ketika aku merasa tidak takut lagi untuk ditinggal sendiri, saat itu lah kamu mencoba untuk melepaskan aku secara perlahan dan memberikanku kesempatan agar aku bisa berdiri atau bahkan sampai berjalan sendiri tanpa harus ada orang lain.
            Saat kamu melepaskan aku seorang diri, aku masih belum bisa stabil. Masih jauh harapan itu. Aku masih ingin terus bergantung dengan egoku yang sudah membesarkanku. Setelah itu kamu jarang melihatku lagi. Aku tidak tahu harus mencari kemana selain berharap kepada kebetulan yang akan mempertemukan kita. Saat kamu tidak ada, saat itu lah aku mencoba memulai mengenal diriku kembali.
            Kita bertemu, bukan dengan suara. Tapi, dengan tulisan yang terwakilkan oleh emosi. Oh, salah. Emosi yang terwakilkan oleh tulisan. Itu pun jarang. Sesekali yang berarti yang bisa mengisi hari-hari.
            Siapa yang sangka jika Tuhan selalu saja ikut campur dalam setiap jadwal manusia-manusianya ini. Dia menyelipkan pertemuan kita kembali tanpa sepengetahuan kita. Mungkin ingin memberi kejutan agar membekas. Ya, memang membekas. Hingga akhirnya aku menceritakan kembali perjalanan empat-puluh-lima menit itu ke dalam catatan digitalku. Aku ingin semuanya membekas. Bekas yang yang tidak harus hilang karena noda yang lain apalagi sampai dibersihkan dengan pembersih yang menyebalkan.
            Aku berbisik kepada Dunia suatu malam, “Bolehkah aku bercerita kepadanya tentang aku yang hampir sembuh?” kemudian Dunia menjawab, “Ceritakanlah kepadanya.” Ya, aku ingin menceritakannya kepadamu. Aku pikir halaman-halaman ini tidak muat untuk aku tuliskan ceritaku yang lain. Aku ingin bertemu dalam kebetulan-kebetulan yang sudah diatur Tuhan dalam waktunya. Jangan merencanakannya, Teman. Selalu tidak akan terjadi. Bukankah awal pertemuan kita adalah sebuah kebetulan yang sudah direkayasanya?
            Aku masih melihatmu, Teman. Kali ini aku melihatmu dengan begitu jelas. Seperti aku melihat bayangan utuhku dalam pantulan cermin. Aku mengamati dengan tidak seksama karena aku tidak ingin salah tingkah yang akhirnya menjadi salah di matamu. Terakhir aku dengar, kamu semakin cerdas dengan nalarmu. Sudah banyak hal yang kamu lewati tanpa harus ada aku. Begitulah kamu, masih bisa tetap berjalan walau tanpa aku. Sedangkan aku, dulunya, selalu ingin berbagi denganmu. Tapi, lama-lama aku merasa kalau kamu tidak seharusnya aku jadikan sebagai pengganti buku harianku. Kamu juga mempunyai coretan kehidupan sendiri yang tidak bisa aku rusak dengan menimpa coretan dariku. Bisa-bisa coretanmu semakin tidak bisa terbaca karena ulahku. Maafkan aku, Teman.
            Aku sendiri. Berjuang dengan semua katamu yang selalu menemaniku untuk tidak jatuh lagi apalagi sampai tidak bisa bangun lagi. Kamu kasar dalam mengajar. Tapi, kamu bisa menjadi halus kepadaku agar aku tetap lurus.
          Pernah kamu meminta agar aku menemanimu untuk melakukan sesuatu. Aku tidak bisa, kataku. Kamu diam saja. Mungkin kamu kecewa. Aku justru sangat kecewa. Aku tidak bisa membagi sedikit pun waktuku untuk menemanimu. Aku masih belum bisa berkorban karena waktuku juga sangat sedikit. Aku ragu bisa membaginya kepadamu.
            Aku hampir sembuh, Teman.
       Tidakkah kamu bahagia membacanya? Tidakkah kamu bisa melihat bagaimana aku tersenyum? Kapan-kapan ingin aku mengajakmu jalan-jalan ke dalam dunia waktu. Dunia yang penuh dengan jarum jam yang sesuka hatinya berputar. Kamu tahu tidak, itu adalah impianku. Bisa bergelayutan di jarum-jarum jam yang berputar seenaknya. Sebenarnya aku masih benci dengan waktu. Tapi, aku ingin berdamai karena sekelilingku diselimuti waktu yang kabut.
            Mari kita bermain-main, Teman. Kita berkeliling dunia sampai menyentuh tepi langit. Kamu sangat menyukai imajinasiku yang tak tertahankan. Seperti melesat begitu saja. Saat kamu masih ada di sampingku, aku merasa bahwa kamulah yang menjadi cawan untuk menampung segala imajinasiku. Sampai tumpah pun kamu tetap akan terus menampungnya bahkan kamu akan meminum imajinasiku agar aku tetap bersemayam erat dalam ingatanmu. Adakah kamu menganggap aku seperti itu?
            Bagaimana bisa aku menulis seperti ini jika tanpa kamu? Aku masih akan terus berjalan, belum ingin berlari, tapi ke depan bukan ke belakang lagi. Untuk menghadapi bukan menghindari lagi segala sisi kehidupan yang masih hidup. Aku menjadi tawanan sosokmu yang tidak ingin kamu hilang begitu saja. Bisa saja suatu saat nanti kita akan terlepas tanpa kata dan tiba-tiba saja terhubung sambil lalu. Bagaimana bisa, Teman?
            Jalan-jalan yang aku tempuh masih belum jelas. Kamu pun begitu. Masih adakah impianmu itu kamu gantungkan dekat dengan jidatmu tentang perjalanan panjangmu nanti melintasi benua? Aku masih. Jika kita memang harus bertemu, maukah kamu berangkat bersama-sama denganku untuk menghitung berapa jengkal tanah yang akan kita langkahi, berapa banyak langkah yang akan kita ayunkan, berapa banyak orang yang akan kita sapa, berapa banyak puji-puji Tuhan yang akan kita sebut, dan berapa banyak lainnya?
            Senyumku masih mengambang saat ini. Sudah dini hari dan aku pun masih terjaga agar tetap terjaga. Akan kamu apakan surat ini? Kamu simpan sebagai jimat? Oh, aku tahu ini bukan urusanku. Diminta menulis untukmu menjadi sebuah teka-teki sendiri. Teka-teki yang menggelikan.
          Aku minta satu hal padamu, sementara ini, jika kamu ingin memberikan kata kepadaku berikanlah kata yang tidak bisa aku lupakan. Apa itu? Aku tidak tahu. Jika saja lho. Tidak berarti harus.
            Dianggap itu membahagiakan. Sepertinya Tuhan tidak perlu merasa bahagia karena Dia dianggap karena Dia tidak membutuhkan itu. Aku senang kamu menganggapku ada walau tidak seutuhnya ada. Sekali pun begitu aku ingin terus tetap ada sampai kapan pun. Makanya aku harus menjadi sebuah bekas bagimu. Aku adalah sebuah bekas yang pasti harus membekas tapi bukan berarti aku dibuang karena aku ini sudah menjadi bekas. Aku ingin tetap dikenang walau mungkin nanti kamu lupa tentang kenangan yang pernah ada tentang apa pun, siapa pun dan kapan pun. Sekarang kenanglah aku dalam dunia nyata. Aku masih bisa tersentuh oleh matamu. Kamu juga begitu. Karena aku masih melihatmu, Teman. Kali ini jaraknya jauh dan aku terus mencoba berlari untuk semakin dekat denganmu, untuk bisa menghadapi kamu dan bukan menghindari kamu.
            Aku masih melihat kamu, Teman.





Medan, 28 Agustus 2010
01.15 WIB
Yuni Zai

Tuesday, September 9, 2014

Ini tentangmu, tentu saja.

Entah bagaimana akhirnya, kau akan melihatku menghabiskan hari-hariku melakukan apa yang aku suka dengan diam. Aku yakin kau akan terus bertanya mengapa aku diam dan tidak tertawa lagi karena kau lebih menyukaiku yang tertawa. Dan, saat kau bertanya begitu padaku, aku pun akan tetap diam. Tidak. Aku tidak bisu. Bahkan aku bisa menjeritkan isi hatiku persis di telingamu yang tidak tuli itu. Tapi, aku lebih suka diam saja. Diamku akan membuatmu mencari jawaban tentang apa yang aku pendam. Diamku akan membuatmu berpikir kalau aku sudah berubah. Diamku akan membuatmu memilih apa yang akan kau lakukan agar aku mau bicara. Dan, aku tidak peduli itu.

Dari pagi ke pagi, begitu setiap hari, aku akan mengurusi kehidupanmu. Tak akan ada keluh lagi karena aku sudah memilih diam. Mungkin peluh akan terlihat saat aku kelelahan mengurusimu. Tapi, aku menerima semua yang terjadi. Sama seperti aku menerimamu saat aku belum tahu siapa kau dulu.

Jika saatnya tiba, entah siapa di antara kita yang akan lebih dulu pergi selamanya, kau berharap tidak ada tangis yang tumpah. Kau sudah berpesan, lebih dari seumur hidup kita bersama, setiap hari, bahwa kita akan bertemu lagi di surga. Jadi, jangan menangis apa pun yang terjadi. Mungkin bisa dikatakan saat ini aku berdiam karena tak ingin menangis saat kau pergi nanti. Tapi, itu masih bukan alasan yang sebenarnya. Itu rahasiaku. Sama sepertimu, kau juga punya rahasia yang aku tak boleh tahu.

Lihatlah betapa kau ingin aku bicara hanya sekedar untuk menanyakan kau ingin apa. Tapi, aku selalu sudah tahu apa yang kau inginkan sehingga aku tak perlu bertanya lagi. Kuusap-usap rambutmu yang sudah memutih. Banyak kerutan di sana-sini. Tubuhmu dingin. Dan, kau selalu menggenggam tanganku. Terus seperti itu hingga saat ini. Kurasa aku memang lebih baik diam. Kau bisa mendengar isi hatiku lewat genggaman ini. Aku sudah ikhlas andai kita harus berpisah. Tidak akan lama. Tidak akan lama.

Matamu terpejam. Genggamanmu merenggang. Maafkan aku. Tangis ini tak bisa aku tahankan.

 

Sunday, August 3, 2014

Buku adalah tentang [kata] hati..


 Jika kau ingin membicarakan tentang buku padaku, maka kau sedang membicarakan sebuah hati padaku. Jika itu tentang bukumu, maka itu tentang hatimu. Jika itu bukuku, maka itu tentang hatiku. Jika kau ingin pinjam bukuku terlebih dahulu, mungkin kau sedang mencoba meminjam hatiku untuk kau pelajari. Jika kau bersedia meminjamkan bukumu, mungkin kau sedang ingin membuktikan bahwa kau sungguh menginginkan hatiku. Jika akhirnya kau meminta bukuku, mungkin kau sudah yakin hatiku ini untukmu. Jika ternyata kau memberikan bukumu padaku, mungkin kau ingin aku tahu bahwa kau percaya padaku. Tapi, aku adalah pedagang buku yang hatinya tak bisa dinilai oleh apa pun.

--Yuni Zai

..tentang buku, tentang menata hati..


Saat kau merapikan rak bukumu, yang berserakan, yang tak sesuai tempat, yang kosong dan sempit-sempitan, yang koyak sampul dan isinya, yang bertingkat-tingkat tak beraturan, yang berdebu, yang bercak-bercak noda air berbagai warna, bahkan dihinggapi rayap, saat itu lah kau sedang menata hatimu.

--Yuni Zai

Saturday, August 2, 2014

..tentang Agustus saat ini..


Agustus sudah berlalu satu hari. Rasanya satu hari pula aku kehilangan kesempatan untuk bertempur dengan pekerjaanku. Selalu. Setiap saat aku janji tak mengulangi kebiasaan salahku yang sama, terus berjanji sampai aku pura-pura lupa ini sudah tanggal berapa. Hanya bisa ucapkan syukur tak terhingga karena ada harapan yang diciptakan Tuhan sebagai alasan untuk tidak bunuh diri.

Ah, jangan sebut satu kata itu lagi. Prioritas. Entah di mana pantasnya kuletakkan satu kata itu. Aku kalah jadi manusia jika tak bijak memposisikannya. Maka, aku harus berterimakasih kepada siapa atas terciptanya urutan angka 1, 2, 3, ... sebagai pengingatku, sebagai teguranku, sebagai "teman cerewet"-ku untuk menuliskan mana yang lebih pantas untuk diprioritaskan terlebih dahulu? Mari kembali ke Tuhan.

Tak apa jika harus menghitung hari. Itu sebabnya kematian sangat dirahasiakan Tuhan karena manusia lebih sakit menunggu kematian yang sudah pasti tanggal mainnya daripada kematian yang datang tanpa ucapan "Selamat Datang". Aku akan menghitung hari, perbanyak senyum, sujud dan berprasangka baik. Jika pun Tuhan punya keinginan lain, aku hanya bisa menerima sambil berkata, "Kau Tuhanku. Aku hanya debu."


Catatan:
Tuhan ada di belakangmu (Cak Nun)

Monday, July 21, 2014

Perempuanku

Perempuan ini belum juga tidur. Kulihat dia tersenyum sendiri saat sedang membaca. Aku yakin pasti ada yang lucu. Masih terdengar suara air dari keran di kamar mandi. Mengucur kecil seperti air kencing. Akhir-akhir ini air sering tidak mengalir ke rumah. Sering kudengar perempuan itu marah-marah karena tak bisa cepat mandi, tak bisa langsung cuci piring, apalagi mencuci baju. Harus ditampung dahulu. Sedangkan waktu berjalan terus. Lihatlah, dia tertawa lagi karena buku itu.

Aku sudah lama menemani dia di ruangan ini. Ini kamarnya. Ukuran yang kecil. Jika tak ada siapa-siapa, lampu di kamar ini dipadamkannya. Aku tak bisa melarang. Aku bukan siapa-siapa. Tapi, aku tak suka dalam gelap. Dia tak tahu itu.

Malam kemarin aku tak sengaja mendengar tangisnya. Tiba-tiba pecah begitu saja. Aku tak bisa bertanya mengapa dia seperti itu. Aku takut dia marah padaku. Aku hanya bisa berdoa agar ketenangan menyelimutinya. Lama-lama tangisnya reda berganti dengan diam seribu bahasa. Matanya menerawang ke langit-langit kamar. Ah, dia masih menangis ternyata. Tanpa isak suara. Kulihat ada bening yang menetes di tepian.

Itu cerita kemarin malam. Malam ini semoga dia tidak menangis lagi. Seandainya saja dia mau membaca pikiranku, dia pasti akan lebih bahagia lagi. Mungkin bukan sekarang. Aku hanya bisa menunggu kapan dia memilihku.

Dia meletakkan buku yang tadi dibacanya. Mungkin ingin mengambil yang lain. Jari telunjuknya menyentuh punggung-punggung buku yang berjejer dan berhenti di salah satunya.

"Cover yang bagus. Oh, Dostoyevsky-ku."

Akhirnya masa penantianku pun berakhir. Dia memilih untuk membacaku. 

Friday, June 20, 2014

Pahit

Malam ini hujan tanpa tanda turun begitu saja seakan-akan ingin mengatakan kepada manusia kalau ia belum mati. Sedangkan aku terjebak di dalam diri karena ada sesuatu yang hampir mati. Ini bukan tentang sebuah kerinduan. Ini hanya sebuah basa-basi bagaimana aku menghadapi hari ini.

Pertemuan. Aku hanya manusia yang harus berterima jika pertemuan akhirnya terjadi juga. Aku tidak boleh melarikan diri. Aku harus menyambutnya dengan sukacita dan gegap gempita. Cukup di dalam hati saja. Aku tak perlu bertanya mengapa ini harus terjadi. Bertanya pun tak ada yang bisa menjawab dengan pasti. Dan, di sini juga aku berdiri menunggu dia yang menjemput hatiku.

Setelah itu apa yang terjadi? Aku merasa menjadi seorang figrid. Aku disentuh, direngkuh, dicumbu hingga bersetubuh. Dan, aku masih merasa menjadi seorang figrid. Lihatlah! Bahkan dia saja tidak peduli apa yang sedang terjadi padaku. Dia terus saja menikmati detik sambil mendengar detak jantungku dengan telinganya menempel di dadaku tanpa beha. Kurasa dia lebih menyukai aku yang seperti ini. Aku yang figrid. Bukan aku yang agresif.

Perpisahan. Aku minta pulang. Pulang sendiri saja. Aku bilang aku besok tak datang. Aku bilang tanpa pandang mata dia yang tajam. Tangannya aku cium. Dingin. Dia pun diam. Berlalu begitu saja.

Cangkir ini berisi kopi yang mulai menghangat. Dia yang membelinya untukku. Pinggirnya kusentuhkan ke bibirku dan aku pun bercumbu pada bibir kopi. Bukan bibir cangkir. Tapi, bibir kopi. Tahu tidak, bibir dia rasanya pahit saat dia mencumbuku tadi. Dan bibirku adalah gula untuk bibirnya.



Tidak.
Ini bukan basa-basi. 
Aku memang rindu.

Patah

Aku pikir pagi ini aku akan terbangun dengan ingatan hilang tentang semua cerita di kemarin hari. Ternyata justru pegangannya semakin kuat erat dan aku dibuatnya jatuh kembali. Aku..bagaimana ini pantasnya aku menyebutkannya?

Aku putar ulang kembali semua kaset yang aku ingat tentang aku. Terlihat betapa aku selalu menganggap benar posisiku atas siapa pun. Aku seperti tak mau tau bagaimana orang lain. Dan, sekarang semua mata mengatakan, "lihatlah dengan terbalik."

Ini yang dinamakan membunuh dirimu lewat tubuh orang lain. Ah, bukan. Mereka tak sampai membunuhmu. Mereka hanya menunjukkan inilah aku dari sudut pandang mereka. Aku dibolehkan masuk ke dalam tubuh mereka dan meminjamkan mata mereka untuk bisa melihat seperti apa aku. Bagaimana rasanya? Aku semacam kenal seorang "aku" itu.

Mungkin tak ada yang tahu betapa aku ingin membahagiakan orang lain dan tak peduli dengan kebahagianku sendiri. Tapi, aku tetaplah begini, seperti anak kecil yang tak tahu apa itu definisi egois.







Ya, aku salah.


Selesai

Detik-detik ketika semua yang dibangun dengan sukacita perlahan memudar dan selesai. Selesai untuk tidak diungkit-ungkit lagi. Kau tau betapa aku sedih semua ini selesai? Aku pun tak kuat jika berjuang sendiri. Dan, akhirnya kau cukup bilang semua ini selesai.

Kakiku macam tak berpijak sekarang. Kupikir aku ini sudah mirip hantu. Bergentayangan antara langit dan bumi karena sebuah kekecewaan. Dan, kau, cukup bilang biarkan waktu yang menjawab. Waktu tak punya lidah untuk menjawab.

Jangan tanya setelah ini aku mau apa. Jangan pura-pura peduli dengan hatiku yang patah. Aku tau tanpaku pun kau masih bernyawa.

Bagaimana tidak, jika orang lain bisa membuatmu lupa akan masalah. Sedangkan aku hanya membuatmu tak bisa berpikir layaknya sang jenius. Aku hanya menangis, menangis dan menangis. Ternyata apa? Diam-diam ada orang lain yang mengertimu yang sudah mempersiapkan kebahagiaan utuh buatmu. Mana mungkin kau menolak? Bahkan kau marah padaku hanya karena aku tak peka padamu. Di mana mata dan hatimu? Aku terlalu peka padamu hingga kubiarkan diri ini berjuang sendiri. Tapi, tak berbekas padamu. Aku mungkin memang hantu yang paling halus hingga tak tampak olehmu.

Sekarang semua telah selesai. Aku ucapkan selamat berbahagia. Surga dan neraka menanti kita. 


Wednesday, May 21, 2014

Waktu

Buat apa aku membenci waktu? Aku mati, dia tetap jalan terus. Pandangannya terus ke depan. Tak akan pernah sudi dia untuk melihat ke belakang. Baginya, pelajaran hidup bukanlah yang terjadi di masa lalu. Tapi, selama dia masih hidup, dia akan terus belajar, dia akan terus mengejar, ke depan. Bukan sepertiku yang suka menyesal di belakang. Ah, aku!
 
Apa yang aku pusingkan? Tak bisa berdamai dengan waktu. Itu saja. Baiklah, aku mengaku ini salahku. Salahku yang menyepelekan waktu yang kupikir akan berbaik hati untuk memasang jeda sebentar saja agar aku bisa menunda-nunda. Ternyata, dia payah. Tau 'kan siapa dia? Dia! Waktu! Aku benci dia. Hah.. Buat apa aku benci waktu?
 
Daftar hal-hal yang membuatku gila sudah:
1. Tesis
2. Buku 
3. Uang
4. Tubuh
5. Waktu
6. ............... (aku benci menambahkannya!!)
 
Bukan mauku ingin menjadi robot yang sudah diatur sedemikian hingga. Bukan juga mauku untuk menjadi Tuhan yang jika berbuat salah tak ada yang menyalahkan. Aku hanya ingin menjadi manusia yang hidup, bukan manusia yang sekedar hidup. Kau pasti tahu, manusia ini sempurna, katanya.
 
Ah, berdamailah. Aku tak ingin menunda. Aku tak ingin bosan dan membosankan. Aku tak ingin merasa seperti mati. Aku ingin hidup. Hidup seperti pejalan yang mencari jejak Tuhan karena rindu. Hidup. Hidup. Hidup.
 
Hari ini sudah hari Rabu yang baru.
Berdamailah
 
 
 


 
 

Tuesday, January 28, 2014

Coret

Aku berharap di Jum'at nanti aku bisa memulai hari dengan senyum lagi. Aku akan membuang waktu dengan rasa senang. Katanya, hiduplah untuk menyenangkan orang lain. Sudah kucoba, tapi mereka tak juga senang. Mungkin aku yang salah atau mereka yang tak pernah puas. Kucoret kalimat itu tadi: hiduplah untuk menyenangkan orang lain. Kataku, hiduplah untuk menyenangkan dirimu sendiri, jika menyenangkan orang lain bukan jawaban. Bagaimana? Egois juga masih aku ini? Mungkin iya, mungkin tidak. Aku masih belum bisa menjadi manusia kuat. Hatiku masih lembek, berlendir lagi. Belum jadi baja. Dan, aku bukan sedang minta pembenaran. Bagiku pembenaran bukanlah hal untuk dibenarkan.




Jangan tunggu aku ya..



Friday, January 24, 2014

Pulang

Seperti ini rasanya pulang. Setelah sekian lama pergi, menghilang, dan ternyata masih kosong apa yang diinginkan. Tapi, aku pulang bukan dengan kecewa. Aku pulang dengan banyak kemungkinan. Mungkin aku memang tidak harus pergi dari sejak awal. Mungkin aku memang belum bertemu saja dengan jawaban. Mungkin aku terlewatkan satu hal. Dan, masih banyak lagi mungkin-mungkin yang lainnya. Yang pasti aku sudah memutuskan untuk pulang. Ya. Pulang. Aku sudah pulang.






Mari kita kembali seperti dulu lagi, saat aku mencintai diri sepenuh-penuhnya..

Wednesday, September 11, 2013